DONGENG.WEB.ID

Koleksi Dongeng dari Berbagai Negara di Dunia

Dongeng Tangkupan Perahu

“Bagaimana jika suatu hari kamu jatuh cinta kepada seseorang, lalu baru menyadari bahwa orang itu adalah darah dagingmu sendiri?”

Konon, jauh sebelum Gunung Tangkuban Perahu berdiri menjulang di tanah Parahyangan, hiduplah seorang perempuan cantik bernama Dayang Sumbi. Kecantikannya begitu terkenal hingga banyak raja dan bangsawan ingin meminangnya. Namun, Dayang Sumbi lebih memilih tinggal tenang di sebuah rumah sederhana di tengah hutan.

Hari-harinya ia habiskan dengan menenun kain. Ia ditemani seekor anjing bernama Tumang, yang sebenarnya bukanlah anjing biasa. Tumang adalah jelmaan seorang dewa yang terkena kutukan.

Suatu hari, ketika Dayang Sumbi sedang menenun, alat tenunnya terjatuh ke bawah rumah. Karena malas turun mengambilnya, tanpa berpikir panjang ia berkata,

“Siapa pun yang mengambilkan alat tenunku, jika perempuan akan kuanggap sebagai saudara. Jika laki-laki, akan kujadikan suamiku.”

Tak disangka, Tumanglah yang mengambil alat tenun tersebut.

Dayang Sumbi terkejut. Ia menyesali ucapannya, tetapi janji tetaplah janji. Akhirnya ia menikah dengan Tumang. Dari pernikahan itu lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang.

Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat, lincah, dan gemar berburu. Namun, Dayang Sumbi tidak pernah memberitahunya bahwa Tumang sebenarnya adalah ayahnya.

Pada suatu hari, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang pergi berburu.

“Anakku, bawakan Ibu hati seekor rusa. Ibu ingin memasaknya untuk makan malam.”

“Baik, Ibu. Aku akan mendapatkan rusa terbaik untukmu,” jawab Sangkuriang penuh semangat.

Ia pun masuk ke hutan bersama Tumang. Berjam-jam mereka mencari rusa, tetapi tidak seekor pun berhasil ditemukan. Hari mulai sore dan Sangkuriang takut pulang dengan tangan kosong.

Tiba-tiba ia melihat seekor rusa berlari di antara pepohonan.

“Tumang! Kejar rusa itu!” teriaknya.

Namun Tumang hanya diam. Ia seakan mengetahui bahwa rusa tersebut tidak boleh diburu.

Sangkuriang kesal.

“Kenapa kau tidak menurutiku?”

Karena dikuasai amarah, Sangkuriang melakukan tindakan yang kelak akan sangat disesalinya. Ia membunuh Tumang dan membawa pulang hatinya kepada Dayang Sumbi.

Sesampainya di rumah, Dayang Sumbi memasak hati itu. Namun setelah selesai makan, ia bertanya,

“Di mana Tumang?”

Sangkuriang terdiam.

“Tumang… tidak akan pulang lagi, Bu.”

Dayang Sumbi mulai curiga.

“Apa maksudmu?”

Dengan suara pelan, Sangkuriang akhirnya mengakui bahwa hati yang dimasak oleh Dayang Sumbi adalah hati Tumang.

Wajah Dayang Sumbi seketika pucat.

“Tumang adalah ayahmu!”

Sangkuriang membeku.

“Ayahku?”

Kesedihan dan kemarahan memenuhi hati Dayang Sumbi. Tanpa mampu menahan emosi, ia memukul kepala Sangkuriang dengan alat tenun hingga terluka.

“Pergilah! Jangan pernah kembali!”

Dengan hati hancur, Sangkuriang meninggalkan rumah. Ia berjalan jauh, menembus hutan dan pegunungan, hingga akhirnya menghilang dari tanah kelahirannya.


Bertemu Kembali

Tahun demi tahun berlalu.

Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan sakti. Ia telah melupakan sebagian besar masa kecilnya, termasuk wajah ibunya sendiri.

Sementara itu, Dayang Sumbi memperoleh anugerah dari para dewa. Meskipun waktu terus berjalan, wajahnya tetap cantik dan awet muda.

Suatu hari, perjalanan membawa Sangkuriang kembali ke daerah tempat ia dilahirkan.

Di sanalah ia bertemu dengan seorang perempuan yang sangat cantik.

Perempuan itu adalah Dayang Sumbi.

Namun keduanya tidak saling mengenali.

Sangkuriang langsung jatuh hati.

“Siapakah namamu?” tanyanya.

“Dayang Sumbi.”

Sangkuriang tersenyum.

“Aku ingin meminangmu.”

Dayang Sumbi pun tertarik kepada pemuda gagah tersebut. Mereka semakin dekat dan akhirnya berencana menikah.

Sampai suatu hari, Dayang Sumbi melihat bekas luka di kepala Sangkuriang.

Jantungnya berdegup kencang.

Ia teringat luka yang pernah dibuatnya bertahun-tahun lalu.

“Dari mana kau mendapatkan bekas luka ini?” tanyanya.

Sangkuriang mencoba mengingat.

“Entahlah. Aku mendapatkannya ketika masih kecil. Kata orang, ibuku pernah memukul kepalaku sebelum aku pergi meninggalkan rumah.”

Dayang Sumbi mundur beberapa langkah.

Kini ia tahu.

Pemuda yang ingin menikahinya adalah anaknya sendiri.


Dua Syarat Mustahil

Dayang Sumbi tidak ingin mengatakan kebenaran secara langsung karena ia takut Sangkuriang tidak mempercayainya. Maka ia mencari cara untuk menggagalkan pernikahan tersebut.

“Aku bersedia menikah denganmu,” kata Dayang Sumbi, “tetapi ada dua syarat.”

“Apa pun syaratnya akan kupenuhi,” jawab Sangkuriang percaya diri.

“Pertama, bendunglah Sungai Citarum hingga menjadi sebuah danau besar. Kedua, buatkan aku sebuah perahu untuk berlayar di danau itu.”

Sangkuriang tersenyum.

“Hanya itu?”

Dayang Sumbi melanjutkan,

“Semua harus selesai sebelum matahari terbit.”

Sangkuriang terdiam sesaat, lalu mengangguk.

“Akan kuselesaikan sebelum fajar.”

Malam itu, Sangkuriang menggunakan kesaktiannya untuk memanggil para makhluk gaib.

Ribuan makhluk datang membantunya. Pepohonan ditebang, tanah digali, dan batu-batu besar disusun untuk membendung sungai.

Dayang Sumbi mengawasi dari kejauhan.

Ia mulai ketakutan.

Pekerjaan itu hampir selesai.

Dan malam masih belum berakhir.

“Jika begini terus, Sangkuriang benar-benar akan berhasil,” gumamnya.

Dayang Sumbi kemudian mendapatkan sebuah ide.

Ia membentangkan kain merah di sebelah timur dan menyalakan banyak obor di baliknya. Cahaya kemerahan memenuhi langit, menyerupai sinar matahari pagi.

Ia juga membangunkan para perempuan desa dan meminta mereka menumbuk padi.

Duk! Duk! Duk!

Suara lesung terdengar ke seluruh penjuru.

Ayam-ayam mendengar suara itu dan mulai berkokok.

“Kukuruyuk!”

Makhluk-makhluk gaib yang membantu Sangkuriang melihat langit mulai memerah. Mereka mengira matahari akan segera terbit.

“Fajar datang! Kita harus pergi!”

Dalam sekejap, mereka menghilang.

Sangkuriang terkejut.

“Tidak! Belum selesai!”

Ia menatap ke timur. Namun sesaat kemudian ia menyadari bahwa matahari sebenarnya belum terbit.

Sangkuriang sadar bahwa dirinya telah ditipu.

“Dayang Sumbi!”

Dengan penuh kemarahan, ia menghancurkan bendungan yang telah dibuatnya. Air danau mengalir deras ke segala arah.

Kemudian ia melihat perahu besar yang hampir selesai dibuat.

Dengan seluruh tenaganya, Sangkuriang menendangnya.

“Pergi!”

Perahu itu terlempar jauh, terbalik, lalu jatuh menelungkup di atas tanah.

Konon, perahu yang terbalik itulah yang kemudian berubah menjadi sebuah gunung.

Gunung tersebut dinamakan Tangkuban Perahu, yang dalam bahasa Sunda berarti perahu yang terbalik.

Hingga kini, bentuk Gunung Tangkuban Perahu dari kejauhan memang menyerupai sebuah perahu raksasa yang tertelungkup.

Sementara Sangkuriang menghilang bersama kemarahannya, meninggalkan sebuah kisah yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Kisah tentang janji, amarah, rahasia masa lalu, dan sebuah perahu yang akhirnya berubah menjadi gunung.

Dan mungkin, setiap kali kabut menyelimuti Tangkuban Perahu, gunung itu sedang mengingatkan manusia pada satu hal:

kemarahan sesaat dapat meninggalkan akibat yang bertahan sangat lama. ***

 

Sumber Referensi:

  1. Tim S.M.I.L.E. (2019). Cerita Rakyat Provinsi Jawa Barat: Sangkuriang dan Dayang Sumbi. KYTA.
  2. Patanjala, Vol. 4, No. 1. (2012). “Mitologi Perempuan Sunda.”
  3. Salingka: Majalah Ilmiah Bahasa dan Sastra, Vol. 12, No. 2. (2015). Kajian Sastra Lisan Sunda.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *