DONGENG.WEB.ID

Koleksi Dongeng dari Berbagai Negara di Dunia

Dongeng Sangkuriang

“Pernahkah kamu membayangkan mencintai seseorang dengan sepenuh hati, lalu mengetahui bahwa orang itu adalah ibumu sendiri?”

Begitulah takdir aneh yang menimpa seorang pemuda bernama Sangkuriang. Kisahnya bermula jauh di tanah Parahyangan, ketika hutan masih lebat dan gunung-gunung diselimuti kabut hampir setiap pagi.

Di sebuah rumah sederhana di tengah hutan, tinggallah seorang perempuan cantik bernama Dayang Sumbi. Ia hidup bersama putranya, Sangkuriang, dan seekor anjing bernama Tumang.

Namun, ada sebuah rahasia besar yang tidak pernah diketahui Sangkuriang.

Tumang bukanlah anjing biasa.

Ia sebenarnya adalah ayah Sangkuriang yang mendapat kutukan sehingga harus hidup dalam wujud seekor anjing.

Sejak kecil, Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat, pemberani, dan sangat menyukai berburu. Hampir setiap hari ia masuk ke hutan ditemani Tumang.

Suatu pagi, Dayang Sumbi memanggilnya.

“Sangkuriang, Ibu ingin makan hati rusa. Bisakah kau pergi berburu hari ini?”

Sangkuriang tersenyum percaya diri.

“Tentu, Bu. Aku akan membawa rusa terbaik untuk Ibu.”

Ia segera mengambil busur dan anak panahnya, lalu masuk ke dalam hutan bersama Tumang.


Perburuan yang Mengubah Segalanya

Matahari semakin tinggi.

Sangkuriang dan Tumang telah berjalan jauh, tetapi belum juga menemukan rusa.

“Aneh sekali,” gumam Sangkuriang. “Biasanya banyak rusa di sekitar sini.”

Tumang terus berjalan sambil mengendus tanah.

Beberapa saat kemudian, seekor rusa terlihat berlari di antara pepohonan.

Mata Sangkuriang berbinar.

“Tumang! Kejar rusa itu!”

Namun Tumang hanya berdiri diam.

“Cepat! Kejar!”

Tumang tetap tidak bergerak.

Sangkuriang mulai kesal.

“Kenapa kau tidak menuruti perintahku?”

Rusa itu semakin jauh dan akhirnya menghilang di balik pepohonan.

Amarah Sangkuriang pun meledak.

Tanpa berpikir panjang, ia mengarahkan panahnya kepada Tumang.

Anak panah melesat.

Tumang roboh.

Beberapa detik kemudian, Sangkuriang mulai menyadari apa yang telah dilakukannya. Namun rasa takut pulang tanpa membawa hasil buruan membuatnya mengambil keputusan yang lebih buruk.

Ia mengambil hati Tumang dan membawanya pulang.


Rahasia Tumang Terungkap

“Ibu, aku sudah pulang!”

Dayang Sumbi keluar menyambutnya.

“Kau berhasil mendapatkan hati rusa?”

Sangkuriang mengangguk.

Dayang Sumbi kemudian memasaknya tanpa mengetahui asal hati tersebut.

Namun menjelang malam, ia mulai merasa heran.

“Sangkuriang, di mana Tumang?”

Sangkuriang terdiam.

“Tumang… tidak pulang, Bu.”

“Mengapa?”

Sangkuriang menundukkan kepala.

Akhirnya ia mengakui semuanya.

Dayang Sumbi membeku.

Wajahnya seketika pucat.

“Hati yang kau bawa tadi… hati Tumang?”

Sangkuriang mengangguk.

Air mata Dayang Sumbi jatuh.

“Tumang adalah ayahmu, Sangkuriang!”

Sangkuriang terkejut.

“Ayahku?”

Dayang Sumbi tidak mampu lagi menahan kesedihan dan kemarahannya.

Ia mengambil alat tenun lalu memukul kepala Sangkuriang hingga terluka.

“Pergi dari sini!”

“Ibu…”

“Pergi!”

Dengan hati hancur, Sangkuriang meninggalkan rumah.

Ia berjalan tanpa tujuan, menembus hutan, sungai, dan pegunungan.

Sejak hari itu, Sangkuriang tidak pernah kembali.


Bertahun-Tahun Kemudian

Waktu terus berjalan.

Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan memiliki kesaktian luar biasa. Ia telah berkelana ke berbagai tempat dan hampir melupakan masa kecilnya.

Sementara itu, Dayang Sumbi mendapat anugerah dari para dewa. Walaupun tahun terus berganti, wajahnya tetap cantik dan awet muda.

Suatu hari, perjalanan membawa Sangkuriang kembali ke tempat kelahirannya.

Ia tidak mengenali daerah tersebut.

Di tengah perjalanan, ia bertemu seorang perempuan cantik.

Perempuan itu adalah Dayang Sumbi.

Namun Sangkuriang tidak mengenalinya sebagai ibunya.

Dayang Sumbi pun tidak langsung mengenali putranya yang kini sudah menjadi lelaki dewasa.

“Siapa namamu?” tanya Sangkuriang.

“Dayang Sumbi.”

Sangkuriang tersenyum.

Sejak pertemuan itu, mereka semakin dekat.

Sangkuriang jatuh cinta.

“Aku ingin menikahimu,” katanya suatu hari.

Dayang Sumbi sempat terdiam, tetapi tidak menolak.

Sampai suatu sore, ketika ia sedang merapikan rambut Sangkuriang, Dayang Sumbi melihat sebuah bekas luka di kepala pemuda itu.

Tangannya langsung gemetar.

Ia mengenali luka tersebut.

Luka akibat pukulan yang diberikannya bertahun-tahun lalu.

“Dari mana kau mendapatkan luka ini?” tanyanya.

Sangkuriang menjawab,

“Katanya, ibuku pernah memukulku ketika aku masih kecil.”

Dayang Sumbi mundur.

Kini ia yakin.

Pemuda yang ingin menikahinya adalah anak kandungnya sendiri.


Syarat yang Mustahil

Dayang Sumbi mencoba menjelaskan bahwa mereka adalah ibu dan anak.

Namun Sangkuriang tidak mempercayainya.

“Tidak mungkin! Kau masih terlihat begitu muda.”

Dayang Sumbi akhirnya mencari cara agar pernikahan itu tidak terjadi.

“Aku akan menikah denganmu,” katanya.

Sangkuriang tersenyum.

“Tetapi aku mempunyai syarat.”

“Sebutkan.”

“Buatlah sebuah danau besar dengan membendung Sungai Citarum.”

Sangkuriang mengangguk.

“Dan satu lagi. Buatkan aku sebuah perahu besar.”

“Baik.”

Dayang Sumbi menatapnya serius.

“Semua harus selesai sebelum matahari terbit.”

Sangkuriang tersenyum percaya diri.

“Aku akan menyelesaikannya.”


Malam yang Menegangkan

Ketika malam tiba, Sangkuriang menggunakan kesaktiannya.

Ia memanggil makhluk-makhluk gaib untuk membantunya.

Dalam sekejap, ribuan makhluk datang.

Sebagian menebang pohon.

Sebagian mengangkat batu.

Sebagian lainnya membendung sungai.

Pekerjaan yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan hampir selesai hanya dalam beberapa jam.

Dayang Sumbi mulai panik.

“Jika ini terus berlanjut, Sangkuriang benar-benar akan berhasil.”

Langit masih gelap.

Namun perahu hampir selesai.

Dayang Sumbi kemudian mempunyai sebuah rencana.

Ia meminta para perempuan di desa menumbuk padi.

Duk! Duk! Duk!

Ia juga membentangkan kain merah di sebelah timur dan menyalakan obor di belakangnya.

Langit terlihat kemerahan seperti menjelang fajar.

Ayam-ayam mulai berkokok.

“Kukuruyuk!”

Makhluk-makhluk gaib yang membantu Sangkuriang melihat cahaya tersebut.

“Matahari akan terbit!”

Mereka segera meninggalkan pekerjaan mereka dan menghilang.

“Jangan pergi!” teriak Sangkuriang.

Namun semuanya sudah terlambat.


Amarah Sangkuriang

Beberapa saat kemudian, Sangkuriang menyadari bahwa ia telah ditipu.

Matahari ternyata belum terbit.

Dengan penuh amarah ia berteriak,

“Dayang Sumbi!”

Sangkuriang menghancurkan bendungan yang hampir selesai dibangunnya.

Air mengalir deras memenuhi lembah.

Kemudian ia melihat perahu besar yang belum selesai dibuat.

Dengan seluruh kekuatannya, Sangkuriang menendang perahu tersebut.

BRAKK!

Perahu itu terlempar jauh.

Ia berputar di udara lalu jatuh dalam keadaan terbalik.

Konon, perahu itulah yang kemudian berubah menjadi sebuah gunung.

Masyarakat menyebutnya Gunung Tangkuban Perahu, yang berarti perahu yang terbalik.

Sementara Sangkuriang menghilang bersama amarah dan kekecewaannya.

Namun kisahnya tidak pernah benar-benar hilang.

Generasi demi generasi terus menceritakannya sebagai pengingat bahwa satu keputusan yang dibuat karena amarah dapat mengubah seluruh perjalanan hidup seseorang.

Sebab terkadang, bukan kekuatan besar yang menentukan nasib manusia, melainkan kemampuan untuk mengendalikan dirinya sendiri. **

Sumber:
Tim S.M.I.L.E. (2019). Cerita Rakyat Provinsi Jawa Barat: Sangkuriang dan Dayang Sumbi. KYTA.
Sontani, U. T. (2022). Sang Kuriang. Kiblat Buku Utama.
Salingka: Majalah Ilmiah Bahasa dan Sastra, Vol. 12 No. 2 (2015), “Sastra Lisan Sunda sebagai Media Jejaring Motif untuk Penguatan NKRI.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *